Bau tanah masih terasa dari uap air hujan yang seharian turun dengan lebat mengiringi laju kendaraan kami yang mulai melintas di jalan aspal. Kira-kira setengah jam perjalanan, kami sampai di warung itu. Tidak ada yang menyolok dari warung yang hanya berukuran sekitar 9 meter persegi itu. Kecil dan agak menjorok ke dalam, meskipun persis di pinggir jalan. Hanya ada bolam bening 25 watt sebagai satu-satunya penerangan dan 3 amben lincak (tempat tidur anyaman bambu) kecil untuk duduk. Namun kerumunan pembeli bisa dipakai sebagai penanda jika warung itu memang laris.